PERAWATAN LUKA BERSIH

 

TUJUAN :

o Mempercepat penyembuhan

o Mencegah infeksi

o Memberi rasa nyaman

PERSIAPAN  ALAT :

ALAT STERIL :

o Duk steril

o Instrumen set ( 2 set)

o Sarung tangan

o Bethadin 10 %

o Sofratul

o Kain kasa

o Alkohol

ALAT TIDAK STERIL :

o Bengkok

o Tempat kotoran

o Tempat larutan lysol / saflon

o Pembalut

o Gunting verban

o Plester / Hepafik

o Perlak pengalas

SEMUA DITEMPAT PADA TROLI  PERAWATAN

CARA KERJA :

  • Perawat cuci tangan, alat-alat disiapkan
  • Pasien diberitahu, atur posisi pasien senyaman dan semudah mungkin
  • Penutup & kasa diangkat / digunting       dimasukan dalam bengkok     tempat sampah ( pincet diletakan pada tempat on direndam larutan lisol / saflon)
  • Luka dibersihkan dengan kasa bethadin memakai alat steril, searah dari dalam keluar
  • Kasa kotor dibuang pada tempatnya
  • Observasi keadaan luka
  • Luka diberi obat (Sofratul) tutup kasa memakai alat steril(jaga kasa tidak melekat langsung pada luka tutup rapat dengan hepafik
  • Alat-alat dibereskan, pasien dirapikan.
  • Perawat cuci tangan
  • Dokumentasi

Obat Dan Khasiatnya ………..

AMPISILLIN Kandungan
Ampisillin trihidrat setara dengan ampisillin anhidrat 250 mg/kapsul,125 mg/5 ml sirup kering, 500 mg/kaplet.

Indikasi
Infeksi yang disebabkan oleh Gram Positif atau Gram Negative yang peka terhadap ampisillin. Infeksi saluran pernafasan seperti bronkopneumonia,otitis media. Infeksi saluran kemih seperti pielonefritis akut,kronik,sistitis,gonore yang tidak terkomplikasi. Infeksi alat kelamin wanita,seperi aborsiseptis,adniksitis,endometritis,parametritis,pelviperitonitis,demam puerperal. Infeksi saluran pencernaan seperi shigellosis,salmonellosis.

KontraIndikasi
Hipersensitivitas,pasien dengan riwayat allergie dengan penicillin

Efek Samping
Reaksi kepekaan seperti erythematosus, maculopopullar rashes, urtikaria serum sickness. Gastro intestinal, glositis, stomatitis, mual, muntah, diare, pseudomembran colitis. Sistem hematopoetikk dan limfotik, anemia, thrombositopenia, eosinofellia, leukofenia, dan agranulositosi.

Dosis
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan e” 20 kg : 3-4 kali 250-500 mg per hari. Anak-anak dengan berat badan d” 20 kg : 50-100 mg /kg BB dibagi dalam 4 dosis setiap 6 jam. Dosis tinggi diberikan untuk infeksi yang lebih berat. Infeksi gonore yang terkomplikasi 3,5 mg Ampisillin + 1 gr probenesid sebagai dosis tunggal. Diminum 1 jam sebelum makan.

AMINOPHYLLINUM
Kandungan Teofilin etilendiamin 24 mg.
Indikasi Asthma bronkhial dan asthma kardial, kejang koroner, depresi pernapasan
KontraIndikasi Hipersensitif
Efek Samping Mual, muntah, diare, sakit kepala, insomia, palpitasi, takikardia, aritmia ventikuler, rash, hiperglikemia.
Dosis Dewasa 3xsehari 1-2 kaplet; anak 6-12 tahun, 2-3x sehari ½ – 1 kaplet,
Sediaan Dos 24 ampul 10 m
BIOCEF
Kandungan Sefotaksim 1 g.
Indikasi Infeksi berat bakteri yang sensitif pada infeksi saluran nafas bawah, kulit dan jaringan lunak, genitourinaria, bakteriemia, sepsis, saluran cerna, tulang dan sendi, meningitis.
KontraIndikasi hipersensitif golongan sefalosporin.
Efek Samping Reaksi alergi pada kulit seperti urtikaria,
Dosis dosis lazim : Dewasa dan anak-anak > 12 Th,1 g tiap 12 jam IM atau IV ; profilalsis infeksi perioperasi,1-2 g,30-60 sebelum operasi ;gonore, 1 g dosis tunggal IM ; Infeksi tidak terkomplikasi, 1 g tiap 12 jam IM atau IV ; Infeksi sedang sampai berat, 1-2 g tiap 8 jam IM atau IV ; Infeksi membutuhkan dosis tinggi, 2 g tiap 6-8 Jam IV ; Infeksi mengancam jiwa, 2 g tiap 4 jam IV; bayi dan anak < 12 th, 50-100 mg/kg/BB/hari dalam 2-4 dosis bagi.
Sediaan Dos i vial 1 g + 4 ml pelarut
BIOTHICOL
Kandungan Tiamfenikol 250 mg; 500 mg/kapsul; 125 mg/ 5 ml sirup kering.
Indikasi Tifus, Paratifus, Samonella, H. Influenza, ricketsia,klamidia dari golongan Lymphogranuloma psitacosis, bakteri gram negative menyebabkan bakteriemia meningitis dan infeksi berat lainnya.
KontraIndikasi Hipersensitive, gangguan faal hati dan ginjal berat.
Efek Samping Diskrasia darah, gangguan gastro intestinal, sindrom abu-abu pada bayi prematur dan baru lahir.
Dosis Dewasa, anak dan bayi diatas 2 minggu: 50 mg/kg BB/ hari, terbagi dalam 3-4 dosis; bayi kurang dari 2 minggu dan bayi prematur, 25 mg/ kg BB/ hari dalam 4 dosis

bagi.

Sediaan Dos : 10×10 kapsul 250 mg
CEFOTAXIME
Kandungan Sefotaxime 500 mg; 1 g
Indikasi Infeksi saluran nafas bawah,saluran kemih, ginekologi, kulit, tulang dan rawan sendi, saluran pencernaan, dan susunan syaraf pusat. Bakterimia dan septikemi
KontraIndikasi Hipersensitif
Efek Samping Hipersensitif, saluran cerna.
Dosis Dewasa dan anak > 12 Th 1-2 g/hari, maksimal 2 g/hari. Anak 1 bulan – 12 Tahun 50-100 mg/kg BB/hari dalam 4-6 dosis terbagi. Bayi dan bayi prematur 1-4 minggu 50 mg/ kg BB/ hari IV setiap 12 jam.
Sediaan Vial 500 mg, 2×10 ml.
CEFTAZIDIME
Kandungan Seftazidim pentahidrat 1 g
Indikasi Septikemia, bakterimia, meningitis, pneumonia, pleuritis. Infeksi saluran nafas bawah. Infeksi pada pasien yang mengkonsumsi imunosupresan
KontraIndikasi Hipersensitif terhadap sefalosforin. Hipersensitif penisilin, Gangguan ginjal.
Efek Samping Gangguan gastrointestinal,efek susunan saraf pusat, flebitis, atau tromboflebitis pada tempat injeksi. Nyeri atau implamasi setelah injeksi IM. Sangat jarang reaksi hipersensitif. Perubahan hematologi sementara. IO: Pemakaian bersama obat nefrotoksik.
Dosis Dewasa 1-6 g/ hari IV atau IM. Anak > 2 bln 30-100 mg/kg BB/hari. Bayi , 2 bln 25-60 mg/kg/BB hari pemberian dalam 2-3 dosis terbagi.
Sediaan Vial 1g 2×10 ml
COLSANCETINE
Kandungan Kloramfenikol 250 mg/ kapsul ; 125 mg/ 5 ml sirup kering; 1 g/ vial injeksi
Indikasi Demam tifoid, batuk kering, bruselosis, rickettsiosis, pneumonia, bronkhopneumonia, infeksi pada saluran kencing dan infeksi organisme yang sensitif.
KontraIndikasi Hipersensitif, gangguan fungsi ginjal dan hati.
Efek Samping Reaksi hipersensitif, gangguan gastrointestinal, sindrom abu-abu, diskrasia darah.
Dosis 1-2 kapsul 3-4x sehari. Sirup: Bayi, ½ sendok teh 3x sehari; anak 1-5 th, 1 sendok teh 3-4x sehari; 6-15 th, 2 sendok teh 3-4x sehari. Dewasa : 3 sendok tah 3-6x sehari. Injeksi : Anak-anak dan bayi > 2 minggu; 50 mg/kg BB/ hari dalam 4 dosis dengan interval 6 jam; bayi baru lahir, 25 mg/kg BB/hari dalam 4 dosis dengan interval 6 jam
Sediaan Dos 10×10 kapsul.
DEXA- M
Kandungan Deksametason 0,75 mg; 0,5 mg/ tablet; 4 mg/ml injeksi.
Indikasi Pengobatan keadaan allergi dan inflamasi reumatoid artritis, asma bronkhial,dermatitis, urtikaria, dan gejala allergi lain
KontraIndikasi Ulkus peptikum, osteoporosis, psikosis.
Efek Samping Jangka panjang : tukak lambung, hipoglikemia, atropi kulit, lemah otot, mens tidak teratur, sakit kepala.
Dosis 2-4x sehari 1 tablet.
Sediaan Dos 25×10 tablet 0,5 mg.
DEPAKENE
Kandungan Asam Valproat 250 mg/ 5 ml sirup
Indikasi Antikonvulsan
KontraIndikasi Gangguan fungsis hati, hipersensitif,
Efek Samping Mual, muntah, gangguan pencernaan, diare, kram perut, konstipasi, anoreksia, sedasi, pusing, nistagmus, ruam kulit, eritema
Dosis Atas instruksi dr.
Sediaan Botol 120 ml sirup
FARSIX
Kandungan Furosemide 10 mg/ml injeksi; 40 mg.
Indikasi Edema,hipertensi ringan sedang
KontraIndikasi Gangguan funsi ginjal, hematologi,SSP serta kulit
Efek Samping Gangguan sistem saraf pusat, gangguan hematologi, gangguan saluran cerna, reaksi dermatologik.
Dosis Awal : 20-40 mg ( 1-2 ampul ) secara IV atau IM, jika tidak memuaskan dosis dapat di tambah secara bertahap setiap 2 jam masing-masing 20 mg ( 2 ampul ) di berikan secara IV, jika kondisi pasisn membutuhkan dapat di berikan dosis berikutnya 20-40 mg disuntikan sesudah 20 menit; penggunaan secara parentral diindikasikan jika absorbsi pada pemberian or al kurang atau jika diinginkan efek kerja yang cepat.
Sediaan Dos 5 ampul 2 ml. 100 tablet 40 mg.
GENTAMERCK
Kandungan Gentamisin sulfat setara gentamisin 80 mg/ 2 ml injeksi.
Indikasi Antibiotikum spektrum luas dengan aktivitas khas terhadap bakteri gram negative
KontraIndikasi hipersensitif
Efek Samping Telinga mendengung, vertigo, tinitus, kehilangan pendengaran, pusing.
Dosis Menurut keadaan penderita. IM/ IV
Sediaan Dos 6 ampul.

Baru sepuluh eh sebelas yang saya sajikan untuk anda, bilamana ada nama produsen yang kiranya dianggap komersil, bukan suatu yang disengaja ….. akan tetapi lebih condong kepada memberikan suatu keingin tahuan akan obat dan khasiatnya …..

Sayaa tunggu request dari anda yang mo tahu lebih lanjut dari obat lainnya …..

Komunikasi Dalam Keperawatan

Ternyata komunikasi dalam keperawatan sangat besar mampaatnya, atau mungkin lebih dari itu. Komunikasi merupakan ujung tombak perawat dalam mengkaji masalah keperawatan yang pasien alami saat dirawat, baik itu rawat jalan atau rawat inap. Tidak salah rasanya jika dosen saya waktu itu menyebutkan bahwa kita sebagai seorang pengkaji, penggali masalah harus selalu tampil elegan, fleksibel, menyentuh, berperasaan, pendengar, dan mungkin menjadi “ibu” dari mereka yang ingin curhat. Berikut adalah makalah yang saya sampaikan jikalau ia bermampaat baiknya saudara, teman, rekan sekalian mengasih komen pada makalah ini. atau mungkin ada pendapat pribadi mengenai anda dirumah sakit atau di PKM ? atau anda serang pasien yang ingin bertanya mengenai teknis lebih jauh ? kita tunggu saja………

BAB I

PENDAHULUAN

Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan.
Pengalaman ilmu untuk menolong sesama memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang besar (Abdalati, 1989). Untuk itu perawat memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang mencakup ketrampilan intelektual, tehnical dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku “caring” atau kasih saying / cinta (Johnson, 1989) dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara terapeutik tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, mencegah terjadinya masalah legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah sakit (Achir Yani), tetapi yang paling penting adalah mengamalkan ilmunya untuk memberikan pertolongan terhadap sesama manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN DAN JENIS KOMUNIKASI

Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik.
Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.

A. KOMUNIKASI VERBAL
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Katakata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan.
Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.

Komunikasi Verbal yang efektif harus:
1. Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.
Contoh: “Katakan pada saya dimana rasa nyeri anda” lebih baik daripada “saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang anda rasakan tidak enak.”
2. Perbendaharaan Kata
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan “Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda” akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.
3. Arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.
4. Selaan dan kesempatan berbicara
Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan denganmemikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.
5. Waktu dan relevansi
Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.
6. Humor
Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.

B. KOMUNIKASI NON-VERBAL
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan katakata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Komunikasi non-verbal teramati pada:
1. Metakomunikasi
Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara Pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar. Contoh: tersenyum ketika sedang marah.
2. Penampilan Personal
Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama. Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seserang berdasarkan penampilannya (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993).
Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekrjaan, agama, budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima, karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang perawat. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak memenuhi citra klien.
3. Intonasi (Nada Suara)
Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya. Perawat harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk menyamakan rsa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara perawat.
4. Ekspresi wajah
Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak melalui ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik. Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga perawat tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.
5. Sikap tubuh dan langkah
Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap; emos, konsep diri dan keadaan fisik. Perawat dapat mengumpilkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat, atau fraktur.
6. Sentuhan
Kasih sayang, dudkungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun harus mnemperhatikan norma sosial. Ketika membrikan asuhan keperawatan, perawat menyentuh klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau membantu memakaikan pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien tergantung kepada perawat untuk melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk menghindarkan sentuhan. Bradley & Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa walaupun sentuhan banyak bermanfaat ketika membantu klien, tetapi perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan hati-hati.

2. KOMUNIKASI TERAPEUTIK SEBAGAI TANGGUNG JAWAB MORAL PERAWAT
Perawat harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi yang didasari atas sikap peduli dan penuh kasih sayang, serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Addalati (1983), Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa sebagai seorang beragama, perawat tidak dapat bersikap tidak perduli terhadap ornag lain adalah seseorang pendosa yang memntingkan dirinya sendiri.
Selanjutnya Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human care” terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga/mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaanya: membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri, “Sesungguhnya setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memrlukan bantuan”. Perilaku menolong sesama ini perlu dilatih dan dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian.

3. TEHNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan tehnik berkomunikasi yang berbeda pula. Tehnik komunikasi berikut ini, treutama penggunaan referensi dari Shives (1994), Stuart & Sundeen (1950) dan Wilson & Kneisl (1920), yaitu:
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non-verbal yang sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan:
a. Pandang klien ketika sedang bicara
b. Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan.
c. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan.
d. Hindarkan gerakan yang tidak perlu.
e. Anggukan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik.
f. Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
2. Menunjukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Tentu saja sebagai perawat kita tidak harus menerima semua prilaku klien. Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang
a. Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.
b. Memberikan umpan balik verbal yang menapakkan pengertian.
c. Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal.
d. Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien. Perawat dapat menganggukan kepalanya atau berkata “ya”, “saya mengikuti apa yang anda ucapkan.” (cocok 1987)
3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.
4. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Dengan mengulang kembali ucapan klien, perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut. Namun perawat harus berhati-hati ketika menggunakan metode ono, karena pengertian bisa rancu jika pengucapan ulang mempunyai arti yang berbeda.
Contoh:
- K : “saya tidak dapat tidur, sepanjang malam saya terjaga”
- P : “ Saudara mengalami kesulitan untuk tidur….”
5. Klarifikasi
Apabila terjadi kesalah pahaman, perawat perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan pengertian, karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan keperawatan. Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang konkrit dan mudah dimengerti klien.
Contoh:
- “Saya tidak yakin saya mengikuti apa yang anda katakan”
- “ Apa yang katakan tadi adalah…….”
6. Memfokuskan
Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya memutus pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah yang penting, kecuali jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.
Contoh: “ Hal ini nampaknya penting, nanti kita bicarakan lebih dalam lagi ”.
7. Menyampaikan hasil observasi
Perawat perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan benar. Perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh syarat non-verbal klien. Menyampaikan hasil pengamatan perawat sering membuat klien berkomunikasi lebih jelas tanpa harus bertambah memfokuskan atau mengklarifikasi pesan.
Contoh:
- “ Anda tampak cemas”.
- “ Apakah anda merasa tidak tenang apabila anda……”
8. Menawarkan informasi
Tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien terhadap keadaanya. Memberikan tambahan informasi merupakan pendidikan kesehatan bagi klien. Selain ini akan menambah rasa percaya klien terhadap perawat. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat perlu mengklarifikasi alasannya. Perawat tidak boleh memberikan nasehat kepada klien ketika memberikan informasi, tetapi memfasilitasi klien untuk membuat keputusan.
9. Diam
Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir pikirannya. Penggunaan metode diam memrlukan ketrampilan dan ketetapan waktu, jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan .
10. Meringkas
Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ono bermanfaat untuk membantu topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya. Meringkas pembicaraan membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya, sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.
Contoh: – “Selama beberapa jam, anda dan saya telah membicarakan…”
11. Memberikan penghargaan
Memberi salam pada klien dengan menyebut namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Penghargaan tersebut jangan sampai menjadi beban baginya, dalam arti kata jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya. Dan tidak pula dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ini “bagus” dan yang sebaliknya “buruk”.
Perlu mengatakan “Apabila klien mencapai sesuatu yang nyata, maka perawat dapat mengatakan demikian.”
Contoh:
- “Selamat pagi Ibu Sri.” Atau “Assalmualaikum”
- “Saya perhatikan Ibu sudah menyisir rambut ibu”.
Dalam ajaran Islam, memberi salam dan penghargaan menggambarkan akhlah terpuji, karena berarti mendoakan orang lain memperoleh rahmat dari Allah SWT. Salam menunjukkan betapa perawat peduli terhadap orang lain dengan bersikap ramah dan akrab.
12. Menawarkan diri
Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya dimengerti. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, tehnik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.
Contoh: – “Saya ingin anda merasa tenang dan nyaman”
13. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.
Memberi kesempatan pada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan. Biarkan klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang perannanya dalam interakasi ini perawat dapat menstimulasinya untuk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.
Contoh:
- “ Adakah sesuatu yang ingin anda bicarakan?”
- “ Apakah yang sedang saudara pikirkan?”
- “ Darimana anda ingin mulai pembicaraan ini?”
14. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Tehnik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Perawat lebih berusaha untuk menafsirkan dari pada mengarahkan diskusi/pembicaraan
Contoh:
- “…..teruskan…..!”
- “…..dan kemudian….?
- “ Ceritakan kepada saya tentang itu….”
15. Menempatkan kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif.
Kelanjutan dari suatu kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Kelanjutan dari suatu kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihat kejadian berikutnya sebagai akibat kejadian yang pertama. Pesawat akan dapat menentukan pola kesukaran interpersonal dan memberikan data tentang pengalaman yang memuaskan dan berarti bagi klien dalam memenuhi kebutuhannya.
Contoh:
- “Apakah yang terjadi sebelum dan sesudahnya”.
- “Kapan kejadian tersebut terjadi”.
16. Menganjurkan klien unutk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segala sesungguhnya dari perspektif klien. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Ketika menceritakan pengalamannya, perawat harus waspada akan timbulnya gejala ansietas.
Contoh:
- “Carikan kepada saya bagaimana perasaan saudara ketika akan dioperasi”
- “Apa yang sedang terjadi”.
17. Refleksi
“Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaanya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Apabila klien bertanya apa yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan maka perawat dapat menjawab: “Bagaimana menurutmu?” atau “Bagaimana perasaanmu?”. Dengan demikian perawat mengindikasikan bahwa pendapat klien adalah berharga dan klien mempunyai hak untuk mampu melakukan hal tersebut, maka iapun akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai kapasitas dan kemampuan sebagai individu yang terintegrasi dan bukan sebagai bagian dari orang lain.
Contoh:
K: “Apakah menurutmu saya harus mengatakannya kepada dokter?”
P: “Apakah menurut anda, anda harus mengatakannya?”
K: “Suami saya sudah lama tidak datang mengunjungi saya, bahwa tidak menelpon saya, kalau dia datang saya tidak ingin berbicara dengannya.
P: “Ini menyebabkan anda marah”.

Dimensi tindakan
Dimensi ini termasuk konfrontasi, kesegaran, pengungkapan diri perawat, katarsis emosional, dan bermain peran (Stuart dan Sundeen, 1995, h.23). Dimensi ini harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan, penerimaan, dan pengertian yang dibentuk oleh dimensi responsif.
1. Konfrontasi
Pengekspresian perawat terhadap perbedaan pada perilaku klien yang bermanfaatn untuk memperluas kesadaran diri klien. Carkhoff (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1998, h.41) mengidentifikasi tiga kategori konfrontasi yaitu:
a. Ketidak sesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan klien)
b. Ketidak sesuaian antara ekspresi non verbal dan perilaku klien
c. Ketidak sesuaian antara pengalaman klien dan perawat Konfrontasi seharusnya dilakukan secara asertif bukan agresif/marah. Oleh karena itu sebelum melakukan konfrontasi perawat perlu mengkaji antara lain: tingkat hubungan saling percaya dengan klien, waktu yang tepat, tingkat kecemasan dan kekuatan koping klien. Konfrontasi sangat berguna untuk klien yang telah mempunyai kesadaran diri tetapi perilakunya belum berubah.
2. Kesegeraan
Terjadi jika interaksi perawat-klien difokuskan pada dan digunakan untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan interpersonal lainnya. Perawat harus sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera.
3. Keterbukaan perawat
Tampak ketika perawat meberikan informasi tentang diri, ide, nilai, perasaan dan sikapnya sendiri untuk memfasilitasi kerjasama, proses belajar, katarsis, atau dukungan klien. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Johnson (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987, h.134) ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara perawat-klien menurunkan tingkat kecemasan perawat klien
4. Katarsis emosional
Klien didorong untuk membicarakan hal-hal yang sangat mengganggunya untuk mendapatkan efek terapeutik. Dalam hal ini perawat harus dapat mengkaji kesiapan klien untuk mendiskusikan maslahnya. Jika klien mengalami kesulitan mengekspresikan perasaanya, perawat dapat membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien.
5. Bermain peran
Membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien kedalam hubungan antara manusia dan memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut pandang lain; juga memperkenankan klien untuk mencobakan situasi yang baru dalam lingkungan yang aman.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kemampuan menerapkan tehnik komunikasi terapeutik memrlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak dalam kemampuan tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutiknya bagi klien dan juga kepuasan bagi perawat.
Komunikasi juga akan memberikan dampak terapeutik bila dalam penggunaanya diperhatikan sikap dan tehnik komunikasi terapeutik. Hal lain yang cukup penting diperhatikan adalah dimensi hubungan. Dimensi ini merupakan factor penunjang yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan kemampuan berhubungan terapeutik.

BAB IV

PENUTUP

Hamid, A.Y.S (1996). Komunikasi Terapeutik. Jakarta: tidak dipublikasikan
Kanus, W.A. Et.al. (1986). An evaluation of outcome from intensive care in major medical centers. Ann Intern Med 104, (3):410

Lindbert, J., hunter, M & Kruszweski, A. (1983). Introduction to person-centered nursing. Philadelphia: J.B. Lippincott Company.

Potter, P.A & Perry, A.G. (1993) Fundamental of Nursing Concepts, Process and Practice. Thrd edition. St.Louis: Mosby Year Book

Stuart, G.W & Sundeen S.J (1995). Pocket gide to Psychiatric Nursing. Third edition. St.Louis: Mosby Year Book

Stuart, G.W & Sundeen S.J (1995).Principles and Practise of Psychiatric Nursing. St. Louis: Mosby Year Book

Sullivan, J.L & Deane, D.M. (1988). Humor and Health. Journal of qerontology nursing 14 (1):20, 1988

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.