Bronkitis

Lucu banget …… saat adikku masuk ke AKPER …. ada saja kejadian lucu yang dia dapat dari Hari pertama masuk ke kampus ….. disuruh bikin makalah yang menurut dia awam banget … musti tahu definisi penyakit dengan embel-embelnya.

Tapi dasarnya ia kreatif …… eh nyuruh gue yang ngerjain tugasnya … hmmm …. oke deh adik … ta kerjain tugasnya …. salah satunya dibawah ini …….

DEFINISI

Bronkitis (Bronchitis; Inflammation – bronchi) adalah suatu peradangan pada bronkus(saluran udara ke paru-paru).
Penyakit bronkitis biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius.

clip_image001

PENYEBAB

Penyebab Bronkitis infeksiosa adalah virus, bakteri dan (terutama) organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia).
Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru dan saluran pernafasan menahun.
Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari:

· Sinusitis kronis

· Bronkiektasis

· Alergi

· Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak.
Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh:
- Berbagai jenis debu
- Asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromin
- Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida
- Tembakau dan rokok lainnya

GEJALA

Gejala bronkitis berupa:
- batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan)
- sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan
- sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu)
- bengek
- lelah
- pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan
- wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan
- pipi tampak kemerahan
- sakit kepala
- gangguan penglihatan.

Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan.
Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau.
Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu.
Sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat.
Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk.
Bisa terjadi pneumonia.

DIAGNOSA

Diagnosis bronkitis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir.
Pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi pernafasan yang abnormal.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
- Tes fungsi paru-paru
- Gas darah arteri
- Rontgen dada.

PENGOBATAN

Pengobatan bronkitis dilakukan untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa diberikan Aspirin atau asetaminofen; kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan asetaminofen.
Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan.
Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru.
Kepada penderita dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetracyclin atau ampisilin. Erythromycin diberikan walaupun dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae.
Kepada penderita anak-anak diberikan amoxicillin.
Jika penyebabnya virus, tidak diberikan antibiotik.
Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya sangat berat, maka dilakukan pemeriksaan biakan dari dahak untuk membantu menentukan apakah perlu dilakukan penggantian antibiotik.

 

Wuih …. baru segitu udah cape deh nyari makalah buat tugas adikku …. lihat ke daftar …..masih banyak bro … listing nya …..

Do’ain moga cepet beres nih OSPEK nya ….. weeik…weik …

Syok Anafilaksis … waspadailah kawan …

Apakah Syok ..??? Bagaimana itu terjadi ?? …. kita simak makalah nya …!!!

Reaksi syok anafilaksis adalah terjadinya reaksi renjatan (syok) yang

memerlukan tindakan emergency karena bisa terjadi keadaan yang gawat
bahkan bisa menimbulkan kematian. Kalangan awam menerjemahkan
keracunan, padahal sesungguhnya adalah resiko dari tindakan medis atau
penyebab lain yang disebabkan faktor imunologi. Perlu diingat bahwa
reaksi alergi tidak semata ditentukan oleh jumlah alergen, namun pada
kenyataannya setiap pemberian obat tertentu (umumnya antibiotika secara
parenteral) dilakukan test kulit untuk melihat ada tidaknya reaksi
alergi. Apakah tindakan ini hanya bersifat psikologis? Perlu kajian
mendalam dari kalangan medis dan publikasi kepada publik tentang reaksi
alergi agar tidak diterjemahkan sebagai “mal praktek“.

Dikatakan “medical error” apabila nyata-nyata
seseorang yang mempunyai riwayat alergi obat tertentu tetapi masih
diberikan obat sejenis. Karena itu penting untuk memberikan penjelasan
dan cacatan kepada penderita yang mempunyai riwayat alergi, agar tidak
terjadi reaksi syok anafilaksis.
Berikut ini adalah penyebab, reaksi tubuh, derajat dan penatalaksanaan reaksi syok anafilaksis.

Penyebab:

  • Obat-obatan:

    1. Protein: Serum heterolog, vaksin,ektrak alergen
    2. Non Protein: Antibiotika,sulfonamid, anestesi lokal, salisilat.
  • Makanan: Kacang-kacangan, mangga, jeruk, tomat, wijen, ikan laut, putih telor, susu, coklat, zat pengawet.
  • Lain-lain: Olah raga, berlari, sengatan (tawon, semut)

Reaksi Tubuh:

  • Lokal: Urtikaria, angio-edema
  • Sistemik:
    1. Kulit/mukosa: konjungtivitis,rash,urtikaria
    2. Saluran napas: edema laring, spasme bronkus
    3. Kardiovaskuler: aritmia
    4. Saluran cerna: mual, muntah, nyeri perut, diare

Derajat Alergi:

Ringan:
Rasa tidak enak, rasa penuh di mulut, hidung tersumbat, edema pre-orbita, kulit gatal, mata berair.

Sedang:
Seperti di atas, ditambah bronkospasme

Berat (syok):

  • Gelisah, kesadaran menurun
  • Pucat, keringat banyak, acral dingin
  • Jantung berdebar, nyeri dada, takikardi, takipneu
  • Tekanan darah menurun, oliguri

Penatalaksanaan Reaksi Alergi:

Ringan:
Stop alergen, beri Antihistamin

Sedang:

  • Seperti di atas di tambah: aminofilin atau inj. Adrenalin 1/1000
    0,3 ml sc/im, dapat diulang tiap 10-15 menit sampai sembuh, maksimal 3
    kali.
  • Amankan jalan nafas, Oksigenasi.

Berat:

  • Seperti sedang ditambah: posisi terlentang, kaki di atas
  • Infus NaCl 0,9% / D5%
  • Hidrokortison 100 mg atau deksametason iv tiap 8 jam
  • Bila gagal: beri difenhidramin HCl 60-80 mg iv secara pelan > 3 menit
  • Jika alergen adalah suntikan, pasang manset di atas bekas suntikan
    (dilepas tiap 10-15 menit) dan beri adrenalin 0,1-0,5 ml im pada bekas
    suntikan
  • Awasi tensi, nadi, suhu tiap 30 menit
  • Setelah semua upaya dilakukan, jika dalam 1 jam tidak ada perbaikan rujuk ke RSUD

Sekarang kamu tahu akan sesuatu ??? maka berbuatlah sesuatu kawan ….

Puyer ….. Bermampaatkah ??? … Anda Bisa Menentukan ..!!!

JAKARTA, 3 Mei 2008 – Penggunaan obat yang tidak rasional masih marak di Indonesia, dan masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak, dari pembuat kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter, apoteker, hingga media massa dan pasien. Kerja sama dan dukungan semua pihak mutlak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi rasional sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan tidak rasional.

Demikian topik utama seminar Puyer: Quo Vadis? yang diselenggarakan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) hari ini di Aula FK-UI Salemba. Seminar yang diharapkan menjadi titik balik
dunia kedokteran Indonesia untuk menata kembali pola pemberian obat agar menjadi rasional ini dihadiri konsumen kesehatan, dokter umum, farmasis, mahasiswa tingkat akhir dan staf pengajar FK-UI.

Para pakar dari berbagai kalangan hadir sebagai panelis: Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK Farmakologi FK-UI); dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (YOP); Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Farmasi FK-UI); Prof. dr. Effionora Anwar, M.S., Apt. (Farmasi FMIPA-UI); Huzna Zahir (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia); dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) (IDI wilayah DKI Jakarta); Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K) (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran); dan dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK (Farmakologi UI). Dr. Dra. Delina Hasan Apt, M.Kes bertindak selaku moderator diskusi terbuka di akhir acara.

Topik yang dibahas meliputi praktik peresepan yang baik, konsep pengobatan rasional, puyer dari perspektif farmasi, serta praktik pengobatan di negara lain. Pemaparan para ahli ini dilengkapi testimoni pekerja dan konsumen kesehatan mengenai pengalaman pengobatan dalam praktik sehari-hari.

Contoh pola pengobatan tidak rasional adalah pemberian beberapa obat sekaligus pada saat bersamaan dalam kondisi yang tidak perlu (polifarmasi), pemberian antibiotika yang berlebihan, serta tingginya tingkat pemakaian obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Salah satu contoh polifarmasi adalah pemberian puyer atau racikan (compounding) yang berisi beberapa obat sekaligus untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan ringan harian seperti demam, batuk-pilek atau diare.

Polifarmasi beresiko memicu interaksi obat. Suatu analisis terhadap sejumlah resep untuk pasien anak-anak yang masuk di suatu apotek di Jakarta Selatan pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 53% diantaranya merupakan pemberian obat secara polifarmasi (lebih dari 4 obat) dan 12% diantaranya memicu timbulnya interaksi obat yang tidak diinginkan (sumber: Media Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan).

Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%. Data yang terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi kuman.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, pemberian resep racikan (puyer) di luar negeri saat ini hanya tinggal 1%. Sementara di Indonesia, resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai.
Dalam satu hari, apotek di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang bisa membuat rata-rata 130 resep puyer.

“Peresepan obat racikan membawa risiko dan berbagai dampak negatif bagi pasien dan petugas farmasi. Kontrol kualitas sangat sulit dilaksanakan dalam pembuatan puyer karena tingginya kemungkinan kesalahan manusia. Selain itu, stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus,
sedangkan toksisitas obat dapat meningkat,” jelas Rianto lebih lanjut.

Profesi kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan dalam memberikan resep sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, seperti meningkatnya biaya pengobatan yang tidak efisien serta terjadinya efek obat yang tidak diharapkan.

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi tampaknya dihadapi kalangan profesional kesehatan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ironisnya, kelemahan ini dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang. Dengan gencar, para dokter dibanjiri
informasi mengenai produk obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya tidak seimbang, cenderung dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan komersial.

Pengertian Puyer

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan puyer?

Puyer atau pulvis adalah salah satu bentuk sediaan obat yang biasanya didapat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet atau kaplet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat.

Alasan dibuatnya puyer adalah:

  1. pasien tidak bisa menelan tablet/pil/kapsul. biasanya pada pasien anak/balita
  2. tidak ada dosis yang sesuai pada sediaan yang ada. misalnya butuh paracetamol 100mg, sementara sediaan yang ada di pasaran 250mg dan 500mg.
  3. polifarmasi : jika pasien anak-anak mendapat obat lebih dari 1 macam
  4. tidak ada sediaan bentuk lain yang sesuai. misalnya bentuk syrup nya tida ada
  5. ekonomis. puyer relatif lebih murah daripada syrup.

Dalam pengobatan modern barat, pada awalnya puyer merupakan salah satu bentuk sediaan yang luas digunakan di seluruh dunia, terutama untuk penggunaan obat racikan/campuran. Namun, dengan kemajuan teknologi, lambat laun sediaan puyer semakin jarang digunakan di seluruh dunia. Selain karena kemajuan teknologi yang menghasilkan berbagai bentuk sediaan obat baru yang lebih aman, mudah digunakan, dan nyaman bagi pasien, sediaan obat puyer dianggap bersifat kurang stabil. Dengan demikian, lebih mudah rusak, takaran kurang akurat, dan penggunaannya juga menimbulkan rasa kurang nyaman (pahit). FDA (Food and Drug Administration) sendiri sudah tidak merekomendasikan penggunaan puyer lengkapnya baca di (http://www.fda.gov/consumer/updates/compounding053107.html)

Penggunaan sediaan obat puyer dan sejenisnya di Indonesia sudah berlangsung lama sejak dahulu kala, jauh sebelum pengobatan modern hadir di sini. Jamu sebagai ramuan obat asli Indonesia sejak ratusan tahun lalu salah satu bentuk sediaannya adalah mirip puyer.

Sediaan obat puyer juga memiliki ”turunan”, yaitu sediaan obat kapsul dan obat sirup yang diracik/dikemas sendiri oleh dokter/apoteker dengan memasukkan puyer ke dalam cangkang kapsul atau mencampurkannya dengan sirup dan air. Biasanya bentuk yg dimasukkan kapsul lebih banyak digunakan pada anak yg besar juga digunakan pada pasien-pasien dewasa. Sebenarnya puyer ini hanya ada di negara berkembang bahkan ada yg bilang hanya ada di Indonesia

Mengingat polemik ini berkembang semakin meluas sehingga meresahkan masyarakat yang terhitung sebagai konsumen, maka sudah seharusnya hal ini menggugah perhatian pihak-pihak yang berwenang.

Pemerintah, tenaga medis, media massa, serta masyarakat sebagai konsumen..

Yang sebenarnya penting untuk ditekankan dalam pemberian obat adalah apakah pemberian obat itu RASIONAL? Baik dari segi pemilihan jenis obat, dosis obat, sediaan (bentuk) obat, adanya interaksi obat dll.

Pemerintah sudah saatnya membuat kebijakan atau pengaturan mengenai obat, terutama dalam hal ini bentuk obat. Dalam hal ini termasuk mempertimbangkan, apakah pemerintah sudah SIAP untuk menyediakan obat dalam bentuk lain, selain puyer, misalnya sirup yang beragam dengan harga terjangkau yang disertai alat ukur di seluruh pelayan kesehatan masyarakat?

Bila memang belum siap, maka hal yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah mempertegas lagi dan memantau standar minimal prosedur, tempat, dan peralatan pembuatan sediaan puyer/turunannya di apotek atau praktik dokter sehingga kebersihan dan ketepatan takarannya memenuhi standar. Selain itu, pemerintah juga perlu mengatur ketetapan kewajiban pemberian label pada kemasan sediaan obat puyer/turunannya yang mencantumkan isi dan takaran obat yang terkandung, tanggal kedaluwarsa, cara penyimpanan, beserta nama dan alamat peraciknya.

Tenaga medis, khususnya dokter.

Dokter harus memahami benar jenis-jenis obat yang akan digunakan. Apakah obat dapat diberikan dalam bentuk puyer, apakah akan muncul interaksi obat antara yang satu dengan yang lainnya harus benar-benar dikuasai oleh dokter. Lebih baik lagi bila ikatan profesi dokter bisa menyusun suatu daftar mengenai obat-obat mana saja yang bisa dijadikan puyer, serta memberikan standar-standar minimal yang harus dipenuhi sebelum meresepkan atau meracik puyer.

Tenaga medis lain, misalnya apoteker.

Apoteker juga wajib mengetahui standar-standar minimal peracikan puyer, termasuk prosedur, tempat, dan peralatan yang digunakan.

Media massa sebagai sarana informasi masyarakat, harus dapat berperan secara bertanggung jawab untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar dan jelas kepada masyarakat supaya tidak menimbulkan keresahan yang semakin bertambah bagi masyarakat.

Masyarakat sebagai konsumen harus dapat bersikap lebih bijaksana, bertindak sebagai pasien yang bijak. Mematuhi seluruh aturan terapi dengan benar.

Di sisi lain, sebenarnya apa yang mendasari kontroversi ini muncul??

Seperti dikatakan ibu menteri kesehatan, standar operasional mana yang dikatakan tidak memperhatikan higienitas? Bukankah selama ini tidak pernah terdengar keluhan bahwa ada bayi atau anak mencret setelah mengkonsumsi puyer?

Tidak adanya komunikasi yang baik antara dokter dan pasien itulah yang justru meresahkan sehingga menyebabkan tidak adanya lagi kepercayaan pasien terhadap dokter. Dokter tidak menceritakan dengan jelas mengenai penyakit serta rencana pengobatan terhadap pasien dan keluarganya, pasien juga takut, malu atau malas bertanya. Hal inilah yang akan banyak menimbulkan kegagalan dalam pengobatan terhadap pasien.

Oleh karena itu, sambil menunggu adanya kebijakan lebih lanjut mengenai kontroversi ini, alangkah baiknya kita memperbaiki hubungan antara dokter dan pasien menjadi lebih baik.

LATAR BELAKANG
Seminar “Puyer: Quo Vadis?”

Seminar “Puyer: Quo Vadis?” dilaksanakan atas dasar keprihatinan beberapa pihak akan maraknya pengobatan tidak rasional di Indonesia. Dalam technical briefing seminar WHO awal tahun 2004 perihal Kebijakan Obat Esensial dikemukakan bahwa di negara berkembang, jumlah obat yang diresepkan yang
sebenarnya tidak perlu diberikan mencapai 39% – 59%. Hal ini mencerminkan tingginya uang untuk membeli obat yang sebenarnya tidak perlu alias pemborosan.

K. Holloway dalam technical briefing seminar WHO 2004 di Geneva menyatakan bahwa dari 30% – 60% pasien yang memperoleh antibiotika, hanya 10% – 25% saja yang benar-benar memerlukannya. Sementara obat-obatan ini jika diberikan kepada pasien memiliki efek samping yang tidak diinginkan.

Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengadakan dua penelitian cross sectional dengan mengumpulkan resep yang dikirim melalui e-mail ke mailing list SEHAT atau resep dan kwitansi yang dikirim ke YOP. Resep yang ditelaah adalah resep untuk anak dengan 4 kondisi yaitu batuk, pilek, demam (ISPA); demam, diare akut (dengan atau tanpa muntah); dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu.
Dari 160 anggota mailing list, temuan kunci penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
* Jumlah obat. Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang 2 – 11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya paling tinggi yaitu 11 obat. Tingkat peresepan puyer mencapai 55,4% pada diare akut, 72,6% pada demam, 77,4% pada ISPA, dan 87% pada batuk.
* Antibiotika. Tingkat pemberian antibiotika paling tinggi pada anak demam yaitu 87% disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan pada anak batuk tanpa demam sebesar 47%.
* Generik. Tingkat peresepannya sangat rendah yaitu 0% pada kasus demam, 5% pada diare akut, 7% pada ISPA dan 10,5% pada batuk tanpa demam.
* Steroid. Obat yang mengandung steroid diberikan pada anak batuk sebesar 60,9%, pada ISPA sebesar 50,9%; sebesar 53,5% pada demam dan bahkan pada diare 18,5%. Tingginya tingkat pemberian steroid sangat memprihatinkan, terlebih karena tidak sesuai tata laksana (guideline) penanganan penyakit-penyakit tersebut dan steroid yang diberikan merupakan steroid yang
cukup “keras”.
* Suplemen. Peresepan multivitamin, ensim, “perangsang nafsu makan” atau “imunomodulator” cukup tinggi yaitu 21,9% pada ISPA, pada demam 34,9%, pada batuk 2,4% dan paling tinggi pada diare yaitu 61,9%.
* Biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan pada ISPA berkisar antara Rp 15.000 – Rp 747.000 (median Rp 117.500); demam Rp 20.800 – Rp 137.000 (maksimum Rp 326.000); diare akut Rp 56.000 – 161.000 (maksimum Rp 349.000). Analisis biaya pada peresepan pediatri di Jakarta menunjukkan tingginya biaya ketika dokter tidak bekerja sesuai tata laksana. Apalagi mengingat biaya bukan sekedar rupiah, tetapi juga harm atau potential harm yang ditimbulkan.

Penelitian menunjukkan adanya dua hal yang berperan dalam pengobatan tidak rasional, yakni keterbatasan pengetahuan petugas profesional kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tidak jarang tetap meresepkan obat yang tidak diperlukan (misalnya antibiotika dan steroid untuk
penyakit infeksi virus). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien sangat berperan dalam penetapan obat yang diberikan.

Salah satu contoh pengobatan tidak rasional adalah pemberian campuran berbagai obat yang diracik dan dijadikan “puyer” (obat bubuk) atau dimasukkan ke dalam kapsul atau sirup oleh petugas apotek (lazim disebut compounding).?
Peresepan obat puyer untuk anak di Indonesia sangat sering dilakukan karena beberapa faktor:

* Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara lebih tepat
* Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah
* Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, walaupun mengandung banyak komponen

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, peresepan obat puyer membawa risiko untuk pasien dan berbagai dampak negatif lainnya. Di negara maju, praktik ini sudah sangat berkurang karena:
1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang obat, atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol kualitas sulit sekali dapat dilaksanakan untuk membuat obat racikan ini.
2. Stabilitas obat tertentu yang dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil (misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya preparat yang mengandung enzim pencernaan)
3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.
4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata-rata diperlukan 10 menit untuk membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk racikan kapsul, sedangkan untuk mengambil obat yang sudah jadi hanya perlu kurang dari 1 menit. Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien terhadap
layanan di apotek.
5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, misalnya puyer yang mengandung klopromazin.
6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang kronis di bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat.
7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat higienis yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya.
8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga asumsi bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai.
9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya obat sulit dibuat puyer (difficult-to compound drugs) misalnya preparat enzim.
10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak mudah diketahui oleh pasien.

Untuk rumah sakit yang ingin mencapai standar internasional, khususnya dalam melindungi keselamatan pasien, maka penulisan resep dan pembuatan obat racikan ini perlu dihapus. Kelak diharapkan semua kebutuhan obat untuk anak dapat dipenuhi berdasarkan obat formulasi pabrik.

Peran Organisasi Profesi Kedokteran dan Kebijakan Pemerintah
Ada 3 agenda tindakan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional.
Pertama, pendekatan edukasi: konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional kepada mahasiswa kedokteran. Selain itu rumah sakit pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan peresepan yang rasional melalui contoh konkret dari para
staf pengajarnya. Sayangnya, justru rumah sakit pendidikan di Indonesia adalah tempat mengajarkan peresepan yang tidak rasional.

Agenda kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat.
Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan sangat penting artinya. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya.

Agenda ketiga, intervensi regulasi.
Peran Dokter dan Industri Farmasi.
Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan sedikitnya tiga alasan mengapa para dokter cenderung abusive dalam pola peresepannya:
* Kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Dokter sering kurang percaya diri untuk menyatakan bahwa penyakit pasien disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotika. Dokter juga khawatir pasien akan pindah ke dokter lain yang justru akan memberikan antibiotika. Saat pasien sembuh ia
akan menganggap antibiotikanya lah yang menyembuhkan. Padahal, setiap penyakit memiliki pola perjalanan penyakit. Saat berobat ke dokter kedua, penyakitnya diambang kesembuhan. Jadi, sama sekali tidak ada hubungan dengan antibiotika yang diberikan.
* Desakan pasien (patient pressure). Tidak sedikit pasien yang meminta antibiotika atau menuntut obat cespleng. Di lain pihak, tidak sedikit pasien yang bersikap pasif, tidak bertanya atau mencari informasi perihal pengobatan yang diberikan.
* Desakan perusahaan (company pressure).

Peran Apoteker
Seorang apoteker di Kanada menceritakan tugasnya di sana, yang antara lain meliputi:
1. Pengecekan apakah resep dari dokter tidak salah untuk penyakit tertentu dan apakah dosisnya sudah tepat. Kalau resepnya salah, apoteker harus menghubungi dokter, sehingga kalau ada kesalahan, masih bisa diperbaiki.
2. Pengecekan kemungkinan interaksi obat. Setiap pasien mempunyai arsip di komputer apotek berisi obat-obat yang pernah dipakainya. Jadi kalau obat/resep baru bisa menyebabkan interaksi obat, apoteker harus memberitahukan dokter yang bersangkutan untuk mengganti obat, bila perlu.
3. Mengawasi apakah pasien adalah pengguna obat yang berlebihan atau drug’s/narcotic’s abuser. Walaupun pasien pindah ke apotek lain, kalau membeli obat jenis narkotika, riwayat pemakaian obat narkotika dapat diketahui sebab pemakaian obat narkotika disimpan di komputer sentral yang
bisa di akses setiap apotek.
4. Konseling. Memberikan konsultasi kepada pelanggan adalah tugas yang sangat penting bagi apoteker.
5. Dari segi ekonomi, apoteker dianjurkan mengganti obat bermerek yang dianjurkan dokter dengan obat generik.

Peran Pasien

Era informasi ini telah menggulirkan pergeseran di berbagai aspek kehidupan termasuk aspek kesehatan khususnya di sisi pengetahuan dan kesadaran kesehatan. Khalayak umum dengan mudah memperoleh akses ke pengetahuan kesehatan. Kemudahan ini seperti mengisi kehausan ilmu kaum muda Indonesia
yang sudah semakin menyadari haknya dan sudah mulai memposisikan dirinya sebagai konsumen.

Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya upaya masyarakat dalam membekali diri dengan pengetahuan kesehatan. Mereka juga mencermati iklim layanan kesehatan baik di luar Indonesia dimana konsumen terbukti berhasil membantu mewujudkan iklim layanan kesehatan yang lebih baik dan rasional.
Mereka juga gencar mencari dan berbagi informasi perihal siapa-siapa saja dokter yang rasional. Mereka bisa saja mengunjungi dokter dengan membawa artikel dan pedoman yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, atau sudah memahami tatalaksana pemberian obat yang tepat (evidence-based medicine/EBM) dan pedoman (guidelines) yang ada.

Lalu bagaimana dokter menyikapi fenomena dan kondisi seperti ini?
Penerapan pedoman dalam praktek sehari-hari, cepat atau lambat, akan membantu mengangkat citra profesionalisme dokter sebagai tenaga medis.

Peran Media Massa

Media massa memainkan peranan sangat besar sebagai sarana sosialisasi pengetahuan dan kebijakan baru bagi masyarakat. Sayangnya, banyak media massa yang tanpa disadari telah dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyesatkan masyarakat dengan informasi yang tidak
seimbang dan tidak tepat.

Peran Institusi Pendidikan Kedokteran dan Farmasi
Dokter, perawat, dan farmasis merupakan sumber bagi orang awam ketika membutuhkan informasi tentang obat. Sebagai konsekuensi, profesi ini dituntut untuk selalu memperbaharui ilmu yang mereka miliki dengan menghadiri berbagai konferensi, pelatihan, dan seminar tentang kedokteran termasuk penggunaan obat yang rasional. Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan obat yang rasional dapat mencerminkan kualitas pelayanan. Diperlukan program tentang penggunaan obat yang rasional yang meliputi pelatihan dalam praktek peresepan dan dispensing yang tepat dan sistem yang mengatur pengawasan (monitoring) secara berkala terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempromosikan penggunaan obat yang rasional.

Institusi kedokteran dan farmasi juga berperan dalam menyelenggarakan berbagai pendidikan berkelanjutan untuk tetap mempertahankan kompetensi yang dimiliki para dokter dan farmasis.

Suryawati dan Santoso tahun 1997 melakukan pelatihan untuk mahasiswa kedokteran yang akan menjalani magang klinik untuk mengenali klaim yang berlebihan atau indikasi yang diperluas tanpa didukung dasar ilmiah, infomasi yang salah tentang efek samping, rekomendasi yang tidak tepat untuk
dosis dan penggunaan obat, informasi yang salah tentang profil farmakodinamik dan farmakokinetik, dan kurangnya informasi tentang peringatan dan pencegahan.
Pelatihan ini terbukti efektif bahkan hingga 12 bulan setelahnya, pelatihan ini terbukti merupakan metode yang berguna untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menilai informasi tentang obat dan iklan secara kritis.

Penutup

Jelas sekali terlihat bahwa masalah penggunaan obat yang rasional bukan hanya tanggung jawab satu atau dua pihak saja (lihat diagram di bawah ini). Diperlukan kerja sama yang saling mendukung antar berbagai pihak.

Akhirnya, mari bergandengan tangan memperbaiki pola layanan kesehatan di Indonesia dengan menjunjung tinggi dua warisan filosofis. Pertama, warisan dari jaman Roma ketika Hippocrates mengingatkan para dokter untuk senantiasa mendahulukan kepentingan pasien. Kedua, warisan dari jaman Yunani ketika Galen meminta dokter untuk senantiasa menjunjung tinggi “Primum non no
cere” atau Above all do not harm (harm di sini maknanya sangat filosofis).

Semoga profesi dokter bukan hanya mampu bertahan melainkan semakin berjaya dan profesional atas dasar etika tinggi, kompetensi dan transparansi. Semoga semua pihak dapat bergandengan tangan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia umumnya, dan buat anak-anak Indonesia khususnya. Semua anak, termasuk anak Indonesia, berhak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik.

Source : http://keluargarachman.wordpress.com

Dan berbagai sumber lainnya

Prosedur Injeksi Intravena (Edit)

Karena Banyaknya masukan dari para follower sekalian, maka saya mengkaji ulang tulisan ini dan meluruskan yang dikira saya anggap rasional dalam praktek sehari-hari ….

URAIAN UMUM
Suatu kegiatan pelayanan perawatan dalam memberikan obat suntikan pada pasien melalui intravena langsung (IV)
A. PERSIAPAN
I.   Persiapan Klien
– Cek perencanaan Keperawatan klien ( dosis, nama klien, obat, waktu pelaksanaan, tempat injeksi )
– Kaji riwayat alergi dan siapkan klien
– Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II.  Persiapan Alat
– Spuit steril dengan obat injeksi pada tempatnya yang sudah disiapkan
– Kapas alkohol 70 %
– Alat tulis
– Bengkok
– Kartu obat dan etiket
– Sarung tangan

B. PELAKSANAAN
– Perawat cuci tangan
– Mengucapkan Salam dan Perkenalan diri pada pasien terus identifikasi klien (nama, Umur, No.Medrec, Alamat)
– Memberitahu tindakan yang akan dilakukan berupa injeksi Intravena langsung
– Perawat mengunakan sarung tangan dan siapkan tangan kanan ato kiri yang akan dilakukan injeksi pada klien
– Lakukan bendungan vena ato stewing 5-8 cm diatas area yang akan disuntik dan Bersihkan / desinfeksi lokasi injeksi dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus
– Membuang kapas alkohol kedalam bengkok
– Memasukan jarum dengan sudut 15-30 kedalam vena yg dituju
– Lakukan aspirasi
– Jika benar masuk kedalam vena (keluar darah melalui spuit) maka masukan obat secara perlahan – lahan
– Mencabut jarum dan tutup bekas injeksi dengan kapas alkohol dan berikan plester pada kapas tersebut supaya tidak ada darah yg keluar
– Kemudian Alat-alat dibereskan dan awasi reaksi obat terhadap klien
– Perawat cuci tangan
– Catat tindakan yang dilakukan

C. EVALUASI
– Perhatikan dosis obat, nama obat, nama klien  dan perhatikan juga respon klien terhadap obat

D. DOKUMENTASI
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap obat, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Prosedur pemasangan Infus

Cairan Infus

Cairan Infus

URAIAN UMUM
Pemberian cairan obat /makanan melalui pembuluh darah vena
A. PERSIAPAN
I. Persiapan Klien
– Cek perencanaan Keperawatan klien
– Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
II. Persiapan Alat
– Standar infus
– Ciran infus dan infus set sesuai kebutuhan
– Jarum / wings needle / abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
– Bidai / alas infus
– Perlak dan torniquet
– Plester dan gunting
– Bengkok
– Sarung tangan bersih
– Kassa seteril
– Kapas alkohol dalam tempatnya
– Bethadine dalam tempatnya

B. PELAKSANAAN
– Perawat cuci tangan
– Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran
– Mengisis selang infus
 Membuka plastik infus set dengan benar
 Tetap melindungi ujung selang seteril
 Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas
 Menggantung cairan infus di standar cairan infus
 Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan ( tapi jangan sampai terendam )
 Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
 Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan keseterilan
 Cek adanya udara dalam selang
– Pakai sarung tangan bersih bila perlu
– Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
– Meletakan perlak dan pengalas dibawah bagian yang akan dipungsi
– Memilih vena yang tepat dan benar
– Memasang torniquet
– Desinfeksi vena dengan tekhnik yang benar dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus
– Buka kateter ( abocath ) dan periksa apakah ada kerusakan
– Menusukan kateter / abocath pada vena yang telah dipilih dengan apa arah dari arah samping
– Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam kateter, bila ada maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik keluar sambil kateter dimasukan perlahan-lahan
– Torniquet dicabut
– Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit
– Memberi plester pada ujung plastik kateter / abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi
– Membalut dengan kassa bethadine seteril dan menutupnya dengan kassa seteril kering
– Memberi plester dengan benar dan mempertahankan keamanan kateter / abocath agar tidak tercabut
– Mengatur tetasan infus sesuai dengan kebutuhan klien
– Alat-alat dibereskan dan perhatikan respon klien
– Perawat cuci tangan
– Catat tindakan yang dilakukan

C. EVALUASI
– Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan

D. DOKUMENTASI
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Prosedur Tindakan Vena Sectie

Donor Darah2

URAIAN UMUM
Vena sectie adalah suatu tindakan menyayat dan memasukan jarum khusus kedalam vena sehingga pemberian cairan infus / tranfusi dapat dilaksanakan
Dilakukan pada pasien :
– Yang mengalami kollaps vena, sehingga sulit diraba dan ditusuk
– Anak-anak atau bayi, karena ukuran venanya terlalu kecil
– Dengan kelainan jantung
B. PERSIAPAN
I. Persiapan Alat
 Yang diberi alas kain ( duk ) seteril berisi :
 Seperangkat alat vena sectie seteril yang terdiri dari
 Bisturi
 Gunting vena
 Arteri klem
 Pemegang jarum dan jarum jahit kulit
 Pinset chirurgis dan anatomi
 Duk klem
 Duk bolong
 venocath
 Spuit 2,5 cc dari jarum
 Procam dalam tempatnya
 Kain kassa dan kapas lidi seteril
 Benang catgut dan Zyde 2/0
 Sarung tangan
 Bethadine dan alkohol 70 % dalam tempatnya
 Meja atau baki instrumen yang berisi :
 Bengkok
 Cairan infus dan infus set sesuai kebutuhan
 Korentang dan tempatnya
 Plester
 Gunting verban dan verban
 Spalk siap pakai
 Strandar infus
II. Persiapan Pasien
 Pasien dan keluarhganya diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan dan posisikan pasien sesuai kebutuhan
C. PELAKSANAAN
1. Siapkan peralatan infus ( lihat cara memasang infus )
2. Petugas mengenakan sarung tangan
3. Desinfeksi permukaan kulit yang akan disayat pertama dengan bethadine selanjutnya dengan alkohol
4. Pasang duk bolong didaerah yang akan disayat
5. Lakukan vena sectie yaitu :
 Sayat kulit sampai didapat vena yang dibutuhkan
 Vena disayat/ langsung tusukan venocath
 Venocath difiksasi, dan jahit luka sayatan
 Infus dipasang
 Luka dikompres dengan bethadine dan ditutup dengan kain kassa seteril
6. Kalau perlu pasang spalk
7. Pasien dan alat dirapihkan kembai dan diletakan padatempatnya semula
8. Perawat cuci tangan

D. EVALUASI
Mencatat hasil tindakan dan respon pasien pada dokumen perawatan tentang :
– Keadaan umum pasien
– Luka sayatan dan kelancaran tetesan infus

Meningistis …… Kupas Tuntas …!!!!

Pengertian

Meningitis

Meninges (coverings of the brain)Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan otak.

Pasien yang diduga mengalami Meningitis haruslah dilakukan suatu pemeriksaan yang akurat, baik itu disebabkan virus, bakteri ataupun jamur. Hal ini diperlukan untuk spesifikasi pengobatannya, karena masing-masing akan mendapatkan therapy sesuai penyebabnya.

  • Penyebab Penyakit Meningitis
  • Meningitis
    Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS.

    Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis diantaranya :
    1. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus).
    Bakteri ini yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-anak. Jenis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia, telinga dan rongga hidung (sinus).

    2. Neisseria meningitidis (meningococcus).
    Bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae, Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah.

    3. Haemophilus influenzae (haemophilus).
    Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jenis virus ini sebagai penyebabnya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaccine) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini.

    4. Listeria monocytogenes (listeria).
    Ini merupakan salah satu jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan meningitis. Bakteri ini dapat ditemukan dibanyak tempat, dalam debu dan dalam makanan yang terkontaminasi. Makanan ini biasanya yang berjenis keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).

    5. Bakteri lainnya yang juga dapat menyebabkan meningitis adalah Staphylococcus aureus dan Mycobacterium tuberculosis.

  • Tanda dan Gejala Penyakit Meningitis
  • Gejala yang khas dan umum ditampakkan oleh penderita meningitis diatas umur 2 tahun adalah demam, sakit kepala dan kekakuan otot leher yang berlangsung berjam-jam atau dirasakan sampai 2 hari. Tanda dan gejala lainnya adalah photophobia (takut/menghindari sorotan cahaya terang), phonophobia (takut/terganggu dengan suara yang keras), mual, muntah, sering tampak kebingungan, kesusahan untuk bangun dari tidur, bahkan tak sadarkan diri.

    Streptococcus_pneumoniae_meningitis,_gross_pathology_33_lores.jpg

    Pada bayi gejala dan tanda penyakit meningitis mungkin sangatlah sulit diketahui, namun umumnya bayi akan tampak lemah dan pendiam (tidak aktif), gemetaran, muntah dan enggan menyusui.

  • Penanganan dan Pengobatan Penyakit Meningitis
  • Apabila ada tanda-tanda dan gejala seperti di atas, maka secepatnya penderita dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pelayan kesehatan yang intensif. Pemeriksaan fisik, pemeriksaan labratorium yang meliputi test darah (elektrolite, fungsi hati dan ginjal, serta darah lengkap), dan pemeriksaan X-ray (rontgen) paru akan membantu tim dokter dalam mendiagnosa penyakit. Sedangkan pemeriksaan yang sangat penting apabila penderita telah diduga meningitis adalah pemeriksaan Lumbar puncture (pemeriksaan cairan selaput otak).

    Jika berdasarkan pemeriksaan penderita didiagnosa sebagai meningitis, maka pemberian antibiotik secara Infus (intravenous) adalah langkah yang baik untuk menjamin kesembuhan serta mengurang atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan.

    Adapun beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin(ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan diberikanAmpicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem),Chloramphenicol atau Ceftriaxone.

    Treatment atau therapy lainnya adalah yang mengarah kepada gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam (paracetamol), shock dan kejang (diazepam) dan lain sebagainya.

  • Pencegahan Tertularnya Penyakit Meningitis
  • Meningitis yang disebabkan oleh virus dapat ditularkan melalui batuk, bersin, ciuman, sharing makan 1 sendok, pemakaian sikat gigi bersama dan merokok bergantian dalam satu batangnya. Maka bagi anda yang mengetahui rekan atau disekeliling ada yang mengalami meningitis jenis ini haruslah berhati-hati. Mancuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah ketoilet umum, memegang hewan peliharaan. Menjaga stamina (daya tahan) tubuh dengan makan bergizi dan berolahraga yang teratur adalah sangat baik menghindari berbagai macam penyakit.

    Pemberian Imunisasi vaksin (vaccine) Meningitis merupakan tindakan yang tepat terutama didaerah yang diketahui rentan terkena wabah meningitis, adapun vaccine yang telah dikenal sebagai pencegahan terhadap meningitis diantaranya adalah ;
    – Haemophilus influenzae type b (Hib)
    – Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7)
    – Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV)
    – Meningococcal conjugate vaccine (MCV4)

    Meningitis Bakteri
    Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah hemofilus influenza, diplococcus pneumonia, streptococcus grup A, stapilococcus aurens, E.coli, klebsiela, dan pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan leukosit terbentuk diruangan subarachnoid ini akan terkumpul didalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intra cranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak
    akan mengalami infark.

    Meningitis virus
    Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptic meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti :herpes simplek dan herpes zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh kortek serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.
    pencegahan
    Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik factor predisposisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC ) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotic) walau gejala gejala infeksi tersebut telah hilang.
    Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi factor atau jenis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.

    Manifestasi Klinik
    • Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku
    • Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor
    • Sakit kepala
    • Sakit sakit pada otot
    • Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien.
    • Adanya disfungsi pada saraf III, IV, VI
    • Pergerakan motorik pada awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan biasa terjadi hemiparesis, hemiplagia, dan penurunan tonus otot
    • Reflex brudzinski dan reflex kernig positif
    • Nausea
    • Vomiting
    • Takikardia
    • Kejang
    • Pasien merasa takut dan cemas

    Pemeriksaan Diagnostic
    1. analisa CSS dan fungsi lumbal
    • Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh / berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri
    • Meningitis virus : tekanan bervariasi, CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negative, kultur virus biasanya hanya dengan prosedur khusus

    2.Glukosa serum : meningkat

    3. LDH serum : meningkat pada meningitis bakteri
    • Sel darah putih : meningkat dengan peningkatan neotrofil (infeksi bakteri)
    • Elektrolit darah : abnormal

    4.LED : meningkat
    Kultur darah / hidung / tenggorokan / urine dapat mengindikasikan daerah “pusat” infeksi /mengidentifikasikan tipe penyebab infeksi

    5. MRI /CT Scan : dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran / letak ventrikel ; hematum daerah serebral, hemoragik maupun tumor

    Penatalaksanaan
    Pengobatan biasanya diberikan antibiotik :

    ANTIBIOTIK:
    Penicillin G

    ORGANISME:
    Pneumococci
    Meningococci
    Streptococci

    ANTIBIOTIK:
    Gentamycin

    ORGANISME:
    Klebsiella
    Pseodomonas
    Proleus

    ANTIBIOTIK:
    Chlorampenikol

    ORGANISME:
    Haemofilus influenza

    ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS
    PENGKAJIAN PASIEN DENGAN MENINGITIS :

    Keluhan utama
    Keluhan utama yang sering adalah panas badan tinggi, koma, kejang dan penurunan kesadaran.

    Riwayat penyakit sekarang
    Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian pasien meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut diantaranya, sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala berhubungan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
    Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
    pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani perawatan di RS, pernahkah mengalami tindakan invasive yang memungkinkan masuknya kuman kemeningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.

    Riwayat Penyakit Dahulu
    Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya.
    Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosia.
    Pengkajian pemakaian obat obat yang sering digunakan pasien, seperti pemakaian obat kortikostiroid, pemakaian jenis jenis antibiotic dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotic).

    Pengkajian psikososial
    Respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.

    Pemeiksaan fisik
    1. Aktivitas / istirahat
    Gejala : perasaan tidak enak (malaise ), keterbatasan yang ditimbulkan kondisinya.
    Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara
    Umum, keterbatasan dalam rentang gerak.

    2. Sirkulasi
    Gejala : adanya riwayat kardiologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung
    Conginetal ( abses otak ).
    Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat (berhubungan
    Dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor ). Takikardi, distritmia
    ( pada fase akut ) seperti distrimia sinus (pada meningitis )

    3. Eleminasi
    Tanda : Adanya inkotinensia dan retensi.

    4. Makanan dan Cairan
    Gejala : Kehilangan napsu makan, kesulitan menelan (pada periode akut )
    Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering.
    5. Hygiene
    Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri ( pada periode akut )

    6. Neurosensori
    Gejala : sakit kepala ( mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat ) . Pareslisia,
    Terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi ( kerusakan
    Pada saraf cranial ). Hiperalgesia / meningkatnya sensitifitas ( minimitis ) . Timbul
    Kejang ( minimitis bakteri atau abses otak ) gangguan dalam penglihatan, seperti
    Diplopia ( fase awal dari beberapa infeksi ). Fotopobia ( pada minimtis ). Ketulian
    ( pada minimitis / encephalitis ) atau mungkin hipersensitifitas terhadap kebisingan,
    Adanya hulusinasi penciuman / sentuhan.
    Tanda : – status mental / tingkat kesadaran ; letargi sampai kebingungan yang berat hingga
    Koma, delusi dan halusinasi / psikosis organic ( encephalitis ).
    -Kehilangan memori, sulit mengambil keputusan ( dapat merupakan gejala
    Berkembangnya hidrosephalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial )
    -Afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.
    – Mata ( ukuran / reaksi pupil ) : unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya
    ( peningkatan TIK ), nistagmus ( bola mata bergerak terus menerus ).
    -Ptosis ( kelopak mata atas jatuh ) . Karakteristik fasial (wajah ) ; perubahan pada
    Fungsi motorik da nsensorik ( saraf cranial V dan VII terkena )
    -Kejang umum atau lokal ( pada abses otak ) . Kejang lobus temporal . Otot
    Mengalami hipotonia /flaksid paralisis ( pada fase akut meningitis ). Spastik
    ( encephalitis).
    -Hemiparese hemiplegic ( meningitis / encephalitis )
    – Tanda brudzinski positif dan atau tanda kernig positif merupakan indikasi adanya
    Iritasi meningeal ( fase akut )
    -Regiditas muka ( iritasi meningeal )
    – Refleks tendon dalam terganggu, brudzinski positif
    – Refleks abdominal menurun.

    7. Nyeri / Kenyamanan
    Gejala : sakit kepala ( berdenyut dengan hebat, frontal ) mungkin akan diperburuk oleh
    Ketegangan leher /punggung kaku ,nyeri pada gerakan ocular, tenggorokan nyeri
    Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi /gelisah menangis / mengeluh.

    8. Pernapasan
    Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
    Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ), perubahan mental ( letargi sampai
    Koma ) dan gelisah.
    9. Keamanan
    Gejala : – Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain, meliputi mastoiditis
    Telinga tengah sinus, abses gigi, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan,
    Fraktur pada tengkorak / cedera kepala.
    – Imunisasi yang baru saja berlangsung ; terpajan pada meningitis, terpajan oleh
    Campak, herpes simplek, gigitan binatang, benda asing yang terbawa.
    -Gangguan penglihatan atau pendengaran
    Tanda : – suhu badan meningkat,diaphoresis, menggigil
    -Kelemahan secara umum ; tonus otot flaksid atau plastic
    – Gangguan sensoris

    Diagnosa Keperawatan
    1. Resiko tinggi terhadap ( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh.
    Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak ; mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain
    Intervensi
    a. Pertahankan teknik aseptik dan cuci tangan baik pasien, pengunjung, maupun staf.
    Rasional ; menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi ( mis : individu yang mengalami infeksi saluran napas atas )
    b. Pantau dan catat secara teratur tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
    Rasional : Terapi obat akan diberikan terus menerus selama lebih 5 hari setelah suhu turun ( kembali normal ) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis terus menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu minggu / berbulan bulan atau penyebaran pathogen secara hematogen / sepsis.
    c. Ubah posisi pasien dengan teratur tiap 2 jam.
    Rasionalisasi ; Mobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
    d. Catat karakteristik urine, seperti warna, kejernihan dan bau
    Rasionalisasi ; Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan resiko terhadap infeksi kandung kemih / ginjal / awitan sepsis.
    e. Kolaborasi tim medis
    Rasional : Obat yang dipilih tergantung pada infeksi dan sensitifitas individu. Catatan ; obat cranial mungkin diindikasikan untuk basilus gram negative, jamur, amoeba.
    2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral yang mengubah / menghentikan aliran darah arteri / vena.
    Hasil yang diharapkan / kriteria pasien anak : mempertahankan tingkat kesadaran , mendemontrasikan tanda-tanda vital stabil, melaporkan tak adanya / menurunkan berat sakit kepala, mendemontrasikan adanya perbaikan kognitif dan tanda peningkatan TIK.
    Intervensi
    a. Perubahan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan fungsi lumbal.
    Rasional : perubahan tekanan CSS mungkin merupakan adanya resiko herniasis batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.

    b. Pantau / catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS.
    Rasional : pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menntukan lokasi, penyebaran / luas dan perkembangan dari kerusakan serebral.

    c. Pantau masukan dan keluaran . catat karakteristik urine, turgor kulit, dan keadaan membrane mukosa.
    Rasional : hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun / munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral.

    d. Berikantindakan yang memberikan rasa nyaman seperti massage punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut.
    Rasional : meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.

    e. Pantau gas darah arteri. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
    Rasional : terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk / meningkatkan iskemia serebral.

    f. Berikan obat sesuai indikasi.

    3. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kelemahan umum.
    Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : tidak mengalami kejang atau penyerta atau cedera lain.

    Intervensi
    a. Pantau adanya kejang / kedutan pada tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang lain.
    Rasional : mencerminkan pada iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.

    b. Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantuan pada penghalang tempat tidur dan pertahankan tetap terpasang dan pasang jalan napas buatan plastik atau gulungan lunak dan alat penghisap.
    Rasional : melindungi pasien jika kejang. Catatan ; masukan jalan napas bantuan / gulungan lunak jika hanya rahangnya relaksasi, jangan dipaksa memasukkan ketika giginya mengatup dan jaringan lunak akan rusak.
    c. Pertahankan tirah baring selama fase akut. Pindahkan .gerakkan dengan bantuan sesuai membaiknya keadaan.
    Rasional : menurunkan resiko terjatuh / trauma jika terjadi vertigo, sinkope atau ataksia.

    d. Berikan obat sesuai indikasi seperti fenitoin ( dilantin ), diazepam , fenobarbital.
    Rasional : merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang .catatan : fenobarbital dapat menyebabkan defresi pernapasan dan sedative serta menutupi tanda / gejala dari peningkatan TIK.

    4. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan adanya proses inflamasi / infeksi.
    Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan poster rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat.

    Intervensi
    a. Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
    Rasional : menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat / relaksasi.
    b. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan yang penting .
    Rasional : menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.

    c. Berikan latihan rentang gerak aktif / pasif secara aktif dan massage otot daerah leher /bahu.
    Rasional : dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang menimbulkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.

    d. Berikan analgetik, seperti asetaminofen dan kodein
    Rasional : mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.
    Catatan : narkotik merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidak akuratan dalam pemeriksaan neurologis.

    5. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan pemisahan dari system pendukung ( hospitalisasi ).

    Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak : mengikuti dan mendiskusikan rasa takut, mengungkapkan kekurang pengetahuan tentang situasi, tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.

    Intervensi
    a. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien / keluarga. Catat adanya tanda-tanda verbal atau non verbal.
    Rasional : gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.

    b. Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala.
    Rasional : meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu dan menurunkan ansietas.

    c. Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi tentang prognosa penyakit.
    Rasional : penting untuk menciptakan kepercayan karena diagnosa meningitis mungkin menakutkan, ketulusan dan informasi yang akurat dapat memberikan keyakinan pada pasien dan juga keluarga

    d. Libatkan pasien / keluarga dalam perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari, membuat keputusan sebanyak mungkin.
    Rasional : meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan kemandirian.

    e. Lindungi privasi pasien jika terjadi kejang.
    Rasional : memperhatikan kebutuhan privasi pasien memberikan peningkatan akan harga diri pasien dan melindungi pasien dri rasa malu.

    DAFTAR PUSTAKA

    Behrman, Richard. E. 1992. Ilmu Kesehatan. Bagian 2. Jakarta : EGC
    Carpebito,Lynda Juall. 2006. Diagnosa Keperawatan. Ed. 10. Jakarta : EGC
    Nelson. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC
    Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
    Wong, Donna. L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.